Tentang Pesan Motivasi Bagi Kita yang Mau Memulai untuk Bangkit

Sesi pembekalan pengurus akhwat ARMI/12/2020/Nasya Amarani


Bogor- Dalam rangka pembekalan dakwah terhadap pengurus wanita Asosiasi Remaja Masjid Istiqlal (ARMI), ARMI mengadakan kegiatan kaderisasi remaja muslimah mengenai “Memulai untuk Bangkit” yang diselenggarakan di Bogor, pada hari Sabtu, 12/12/2020.

Kegiatan itu berisikan pesan motivasi yang disampaikan oleh anggota dari divisi Kaderisasi Pengembangan Sumber Daya Manusia (KPSDM) yaitu Nurhasanah dan Vellya Putri Intan.

Dalam paparannya, Nurhasanah terlebih dulu meminta para anggota wanita ARMI untuk memejamkan mata dan membayangkan limphan nikmat yang selama ini sudah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan atas perjalanan hidup masing-masing.

Kemudian, Nurhasanah memulai pesan motivasi dengan membaca Qs Ali-Imran: 110, yang artinya, “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia,…” 

Dengan ayat tersebut, kita pahami bahwa lahirnya kita sebagai umat Islam, dan adanya usaha kita untuk berada di jalan dakwah, dengan mengajak yang ma’ruf, menjauhi yang munkar, kita merupakan manusia terbaik yang Allah pilihkan.

“Kita itu manusia pilihan. (Hal tersebut) bisa kita analogikan seperti saat kita diamanahkan Kepala Sekolah untuk ikut lomba mewakilkan satu sekolah. Pasti kita berusaha dengan sangat baik, tidak mau mengecewakan pihak sekolah, tidak mau mengecewakan guru yang sudah percaya. Nah, hal itu bisa dibayangkan saat (dalam suatu keadaan yang menurut kita sulit) Allah langsung yang tunjuk untuk menjalani amanah tersebut. Masa kita akan mengecewakan Allah? Tidak, kan?” Papar Nurhasanah, dalam pembekalan kaderisasi remaja muslimah, Bogor, Sabtu (12/12/2020).

Selanjutnya, setelah kita memahami bukan hal mudah menjalani dakwah, Vellya memaparkan bahwa cara dakwah bisa kita pahami di Qs Fussilat: 33, artinya sebagai berikut.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslim.” (QS. Fussilat: 33).

Dengan itu, kita pahami bahwa cara terbaik dalam berdakwah adalah dengan menyampaikan pesan menggunakan perkataan yang baik. 

Kemudian, Nurhasanah mengatakan bahwa dakwah merupakan wujud cinta kita kepada orang yang kita sayangi. 

“Alamiahnya seperti kita merekomendasikan barang yang baik dengan cara yang menarik supaya orang lain mengerti dan bisa mengikuti apa yang kita rekomendasikan dengan baik.”

Dakwah juga merupakan sarana untuk merekomendasikan seseorang agar bisa merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang kita rasakan. 

Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Qs Ali Imran: 110, yang artinya, “…menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…”

Selain itu, Vellya juga berpesan agar kita senantiasa fokus pada proses dakwah yang kita jalani. 

“Satukan pikiran kita tentang alasan dan tujuan kita dalam berdakwah, dengan terus fokus bahwa dakwah kita untuk Allah, dakwah kita karena Allah. Jadi tidak ada alasan untuk tidak berdakwah. Berhenti baperan, teruslah berperan,” ujar Vellya.

Seirama dengan pesan yang disampaikan Vellya, Nurhasanah menambahkan bahwa dakwah itu ialah tentang kolaborasi. 

“Dakwah itu berjamaah, tidak bisa dilakukan seorang diri. Kalaupun bisa, itu tidak akan bertahan lama,” papar Nurhasanah.

“Seperti saat sedang membangun gedung yang tinggi. Didalamnya terdapat kolaborasi dari Arsitek, Buruh bangunan, Ahli Sipil, Ahli Pasang Batu-bata, Ahli instalasi listrik, dan pekerja lainnya. Dari permisalan tersebut, kita bisa pahami bahwa semuanya memiliki peran. Semuanya penting. Jika ada satu yang tidak ada, maka pembangunannya akan terhambat,” sambung Nurhasanah.

Sedangkan saat ingin berkolaborasi, Nurhasanah mengatakan bahwa kita perlu melewati lima proses berkolaborasi dalam dakwah, diantaranya sebagai berikut.

1. Taaruf (Saling Mengenal)

Dalam fase ini, kita bisa mengawali kolaborasi dakwah dengan mengenal rekan dakwah kita. 

“Seperti tahu nama, alamat, anak keberapa, apa yang disuka atau apa yang tidak disuka, dan lain-lain,” ujar Nurhasanah.

2. Tafahum (Saling Memahami)

Saling memahami di sini merupakan satu tingkat dari sebelumnya. “Seperti misalnya apakah teman kita suka pedas atau tidak, bagaimana cara mengatasi lelahnya dia, dan lain sebagainnya,” papar Nurhasanah.

3. Ta’awun (Saling tolong menolong)

Dalam fase ini, Nurhasanah mengatakan bahwa kita sudah di tahap mengetahui bahwa teman kita membutuhkan pertolongan kita. 

“Misalnya, teman kita butuh sesuatu, lalu kita bisa bantu, dalam hal ini bukan hanya materi, tapi bisa saja jika kita hadir disampingnya, membuatnya tertawa saat sedang sedih, itu bisa meringankan beban pikirannya," ujar Nurhasanah.

4. Takaful (Saling berkorban)

Dalam fase ini, Nurhasanah juga mencontohkan suatu keadaan disaat teman kita lebih membutuhkan hal yang sudah kita dapat, lalu kita merasa perlu untuk mengalah agar teman kita bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik. 

“Misalnya, ada baju kebaya, lalu kita tahu kalau teman kita mau wisuda dan sangat membutuhkan baju kebaya, kita memberikan baju kebaya kita kepada dia karena dia lebih membutuhkan, (itu contoh dari saling berkorban),” jelas Nurhasanah.

5. Tasamuh (Saling Toleransi)

Setelah empat fase sudah kita lewati, kita akan sampai di fase saling toleransi atau tenggang rasa. 

“Misalnya, kita memaklumi cara makan antara kita dan teman kita yang berbeda, atau saat kita bisa menyelesaikan suatu masalah dengan satu cara sementara teman kita hanya bisa menyelesaikan masalahnya dengan menggunakan solusinya sendiri, kita akan memaklumi, akan toleransi dan tidak menghakimi agar dia bisa menjadi orang lain,” terang Nurhasanah.

“Karena masing-masing orang itu unik. Sehingga kita tidak melulu meminta orang lain untuk menjadi seperti apa yang kita inginkan,” ujar Nurhasanah.

Kemudian, Nurhasanah juga memaparkan bahwasannya cara berkolaborasi dalam dakwah dengan baik adalah dengan  terus berinteraksi, saling berkabar, terbuka, dan peduli satu sama lain.

Dengan hal tersebut, dalam menciptakan kolaborasi dakwah yang baik, kita bisa membangun rasa kepercayaan, kekeluargaan, dan rasa saling membutuhkan satu sama lain sehingga bisa menjadi tim yang kuat dan siap menempuh perjalanan dakwah yang penuh rintangan dan ujian.


Penulis: Nurul Fajriyah

Penyunting: Tim Redaksi Asosiasi Remaja Masjid Istiqlal

Posting Komentar

0 Komentar