Menghafal, Jangan Sampai Terlupa

Sumber Foto : Pinterest

Semangat dalam meraih ilmu adalah salah satu hal yang sangat penting dan wajib kita tekuni. Sebagai seorang muslim, mengenal Allah dan mempelajari agama dapat dicapai dengan berilmu, menegakkan keadilan bisa dicapai dengan berilmu, mengerti dalam bidang yang ditekuni bisa ditempuh dengan berilmu. 


Menghafal serta memahami setiap ilmu bisa dijadikan salah satu langkah yang dapat mengantarkan seseorang untuk menuju kemuliaan yang diridai oleh-Nya. Bicara tentang menghafal, teman-teman pasti sudah berusaha keras untuk mengistiqomahkan diri dalam menjaga hafalan, kan? 

Agar hati senantiasa teguh pada niat yang hanya untuk Illahi, mari bersama kita pelajari faktor apa sajakah yang membuat Allah memudahkan kita dalam menghafal serta faktor yang juga dapat membuat kita mudah untuk lupa.

Mudah dalam menghafal

Faktor terkuat untuk mempermudah seseorang dalam menghafal ialah dengan membaca Alquran, dengan kesungguhan dan ketekunan dalam hati, mengurangi makan, dan salat malam.

"Tiada sesuatu yang lebih bisa meningkatkan hafalan seseorang daripada membaca Alquran dengan nazhar (melihat mushaf). Membaca Alquran dengan nazhar itu lebih utama, sebagaimana sabda Nabi Solallahu alaihi wassalam :
"Amalan umatku yang paling utama adalah membaca Alquran dengan nazhar."¹

Dikutip dari buku Ta'limul Muta'alim karya Imam Az-Zarnuji bahwa bersiwak, minum madu, makan kundarah dicampur gula dan makan anggur kering merah (kismis merah) 21 butir dalam kondisi kosong setiap harinya juga dapat mempermudah hafalan, selain itu juga dapat dijadikan sebagai obat dari berbagai macam penyakit.

Mudah lupa

Adapun yang menjadikan seseorang menjadi mudah lupa akan ilmu yang seseorang coba untuk hafalkan ialah maksiat, banyaknya dosa, hati yang senantiasa gelisah, kesedihan yang berkepanjangan karena urusan dunia dan banyaknya kesibukan serta ikatan dengan dunia.

Memikirkan dunia tak lepas dari akibat kegelapan hati, sedangkan berambisi pada akhirat tak lepas akibat hati yang bercahaya. Orang yang terlalu mengejar dunia akan menghalangi untuk berbuat kebajikan, sementara orang yang senaniasa mengejar akhirat dalam hidupnya akan mendekatkannya pada kebajikan.

Salat yang khusyuk dan mencari ilmu dapat menjadi penawar hati bagi seseorang yang senantiasa dalam kegelisahan dan kesedihan yang tiada terputus. Seperti yang telah disampaikan dalam syair Syekh Al-Imam Nashr bin Al-Hasan Al Marghinani 
"Mintalah tolong, wahai Nashr putra Al-Hasan dalam engkau mencari ilmu-ilmu yang tersembunyi. Hanya itu, yang bisa membuang duka, selain itu tidak dapat dipercaya."

Semoga Allah senantiasa mudahkan jiwa dan raga setiap dari kita dalam menerima ilmu dan dalam menghafal, semoga setiap langkah yang kita tapaki ialah langkah yang semakin mendekatkan diri pada rida-Nya. Setiap niat yang dilaksanakan karena Allah, semoga senantiasa Allah berkahi. 

Semangat menuntut ilmu, duhai muda mudi yang rindu akan cerahnya cahaya kemenangan. Rajutlah waktu yang dimiliki dengan hal terbaik penuh manfaat agar tiada penyesalan di akhir hari pertanggungjawaban.

Catatan kaki
[1] Disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Haitsami dalam Tahrir Al-Maqal (manuskrip):3 dengan lafal "sebaik-baik ibadah umatku adalah membaca Al-quran dengan nazhar." Ia berkata: Hadist ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Al-Hakim. Disebutkan pula oleh As-Suyuthi dengan lafal tadi dalam Al-Kabir. 1/116 dan berkata : Ia telah dikeluarkan ikeh Al-Hakim dari 'Ubadah bin Shamit.

Sumber bacaan : Ta'limul Muta'alim ( Pentingnya Adab Sebelum Ilmu) karya Imam Az-Zarnuji.
Penulis : Nurul Fajriyah
Penyunting : Tim Redaksi Asosiasi Remaja Masjid Istiqlal Jakarta.

Posting Komentar

0 Komentar