Buya Arrazy Hasyim: Ramadan yang Perlu Kutemukan, Mari Puasakan Nafsiah

Jakarta, Asosiasi Remaja Masjid Istiqlal - Ramadan merupakan bulan termulia yang di dalamnya terdapat banyak keutamaan. Menggapainya menjadi sebuah keniscayaan, asalkan disertai  keistiqomahan. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Islam itu dibangun di atas lima dasar: persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji (ke Baitullah) dan puasa di bulan Ramadhan." (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan hadist tersebut, kita ketahui bahwasanya puasa di bulan Ramadan termasuk ke dalam lima rukun Islam. Namun, puasa seperti apa yang dimaksud? Apakah hanya menahan lapar dan dahaga? Ataukah ada makna mendalam yang menyertainya?

Sambutan oleh Kepala Bidang Penyelenggara Peribadatan Badan Pengelola Masjid Istiqlal KH. Bukhori Sail Attahiri, Lc, MA, di Lantai Utama Masjid Istiqlal, Jakarta, Ahad (27/3).

Dalam kitab Ihya Ulumuddin Jilid I karya Imam Al-Ghazali, tentang paparan rahasia-rahasia puasa dan syarat-syarat batiniyahnya, diketahui bahwasanya puasa terdapat tiga tingkat, di antaranya puasa umum, puasa khusus, dan puasa yang khusus dari khusus (lebih dari khusus lagi).

Dari ketiga tingkatan orang berpuasa tersebut, Buya Dr. Arrazy Hasyim, MA.Hum, dalam kajian Majelis Ta'lim Pemuda Istiqlal yang diselenggarakan Asosiasi Remaja Masjid Istiqlal dengan bahasan "Ramadhan yang Perlu Kutemukan" mengatakan, Ramadan yang kita temukan minimal berada pada tingkat puasa kedua yaitu puasa khusus, melatih nafsiah atau ego. 

Buya Arrazy juga berpesan agar kita jangan hanya berpuas diri berada pada tingkatan puasa awam yang hanya menahan lapar, dahaga, dan syahwat seksualitas. "Puasa tingkat awam, puasa zahir, niatnya akan membuat dia kuat dalam berlapar-lapar dan itu cukup. Cuma sayang sekali, karena puasa ini hanya menahan lapar dan dahaga atau hanya menahan hasrat seksual," paparnya di Lantai Utama Masjid Istiqlal.

Para jamaah yang menghadiri MTPI 6 "Ramadhan yang Perlu Kutemukan", diselenggarakan Asosiasi Remaja Masjid Istiqlal.

Guna memaksimalkan puasa di bulan Ramadan, Buya Arrazy menyarankan agar momentum tersebut bisa membawa kita pada tingkat puasa kedua, yaitu puasa nafsiah atau disebut sebagai puasa khawash (khusus). Allah SWT akan lebih menghidupkan qalbu ketika kita berpuasa nafsiah. "Puasa Ramadan yang kita cari minimal (Ada di tingkat puasa ke dua) yaitu puasa nafsiah, latihlah dirimu, minta fatwa ke dalam qalbumu," jelasnya.

Berdasarkan paparan Imam Al-Ghazali, puasa khusus yaitu mencegah segala anggota badan dari dosa, dan kesempurnaannya adalah dengan enam perkara, di antaranya memincingkan mata dan mencegahnya daripada meluaskan pandangan kepada tiap-tiap yang dicela dan dimakruhkan serta kepada tiap-tiap yang membimbangkan dan melalaikan hati daripada mengingati Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda: "Puasa itu adalah perisai, apabila seseorang di antara kamu sedang berpuasa maka janganlah berkata kotor dan jangan pula berbuat fasik. Jika ada seseorang yang menyerangnya atau mencacinya, maka hendaklah ia berkata 'sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa,'" (HR. Bukhari Muslim).

"Puasa dalam hadist di atas, diartikan sebagai menahan ego, ego amarah (lebih tepatnya). Sebagai manusia normal, kalau diajak bertengkar sama orang lain (umumnya) bertengkar, itu manusia biasa. (Namun) hal tersebut merupakan tanda kegagalan berpuasa nafsiah," terang Buya Arrazy.

Adapun bukti keberhasilan seseorang menjadikan puasa sebagai perisai ialah ketika mereka mampu bersabar dari seluruh terpaan caci dan dengki yang dilayangkan orang lain. "Bisakah kita lebih dewasa dari tubuh biologis (ketika) ego sedang naik? Kalau bisa, maka kita sudah menemui Ramadan yang dicari. Saat terpaan cacian serta fitnah datang, cukup katakan, 'nanti kebenaran akan terungkap,' jika bisa, maka berhasil kita lalui puasa khawash."

"Imam Al-Ghazali biasa menyebut puasa khawash sebagai puasa level wali. Pemuda jadi wali, sangat mungkin. Karena di akhir zaman ini kalau tidak menjadi kekasih Allah SWT, dia akan menjadi kekasih setan. Maka mesti menjadi kekasih Allah SWT karena Allah-lah wali orang-orang beriman, maka orang beriman mesti mengikuti sifat-sifat Allah SWT yang telah disebutkan-Nya dalam Asmaulhusna," jelas Buya Arrazy.

Buya Arrazy juga memaparkan praktek puasa nafsiah, yaitu dengan memulainya dari mempuasakan fisik kemudian karakter emosi. "Jadi harus dua-duanya. Ketika ada keinginan yang di luar kemurnian qalbu, hal tersebut perlu dilawan. Kebeningan qalbu hanya bisa didapat dengan mengingkari nafsiahmu." 

Berikutnya pada tingkatan puasa ketiga, terdapat puasa ruhani atau disebut dalam Kitab Ihya Ulumuddin dengan puasa khawashul-khawash. "(Seseorang yang berpuasa pada level ini), hanya mau mengingat Allah SWT, berbuat ihsan, beribadah seakan memandang-Nya, jika tidak terasa memandang-Nya maka dirinya akan merasa dipandang-Nya. Ini tidak harus diterapkan, cukup pada tingkatan kedua saja."

"Ramadan yang perlu kita temui adalah Ramadan yang dapat membakar, bukan hanya kelaparan, namun juga nafsiah keegoan kita. Semoga saya dan kita semua diangkat puasanya, jiwanya, dari jiwa yang awam menjadi jiwa yang khawas bahkan khawashul-khawash," pungkas Buya Arrazy.


Saksikan juga siarannya secara daring melalui SINIARMI: Buya Ar-Razy: MTPI 6 - Ramadhan yang Perlu Kutemukan 

Posting Komentar

0 Komentar