Tahsin ARMI: Tadabur QS Al-Fatihah: 1-3

Jakarta, Remaja Masjid Istiqlal-Sobat Armi, sebagaimana yang kita ketahui, Alquran diturunkan langsung oleh Allah Subhanallahu Wata'ala, kepada Nabi Muhammad secara berangsur-angsur.

Hadirnya Alquran, bukan hanya sekadar dibaca. Namun juga, untuk ditadaburi (direnungkan) dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana, Allah berfirman dalam QS. Sad ayat 29.

كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ

Artinya: "Kitab (Alquran) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran." (QS. Sad [38]: 29)

Selain tadabur Alquran, kita juga mengenal adanya tafsir Alquran. Di antara tadabur dan tafsir, kita ketahui bahwasannya kedua hal itu sama-sama menelaah Alquran. 

Kemudian, apakah perbedaan antara tadabur dan tafsir? Sebelum beranjak pada pembahasan tadabbur QS Al-Fatihah: 1-3, berikut penjelasan singkat mengenai perbedaan keduanya. 


Perbedaan Tadabur dan Tafsir

Ibnu Qoyim dalam Khoirur Rifqi menerjemahkan, bahwa tadabur terbentuk dari kata dabara, berasal dari tiga huruf yakni da - ba - ra (دبر) yang berarti 'akhir sesuatu.' Sedangkan dalam KBBI V daring, kata 'tadabur' berarti 'merenungkan.' 

Selain itu, pembina ARMI, Pak Subhan juga menjelaskan, "Tadabur berarti merenungi dan mencari hikmah ayat yang kita baca," tegasnya, dalam kelas Tahsin dan Tadabur Alquran ARMI, Minggu (20/6/2021).

Adapun pengertian dari tafsir dalam KBBI V daring berarti, keterangan atau penjelasan tentang ayat-ayat Alquran agar maksudnya lebih mudah dipahami. Menafsirkan ayat Alquran berarti, menyingkap makna dari tiap kata ataupun kalimat dari suatu ayat. 

Perbedaan antara tafsir dan tadabur yang pertama terletak pada, seseorang yang dapat melakukan hal tersebut. 

Tafsir hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu, yang sudah menguasai ilmu dan memenuhi beberapa kriteria sebagai penafsir. Sedangkan tadabur, dapat dilakukan oleh semua kalangan. 

Perbedaan yang kedua yakni pada, tujuan dari aktivitas tersebut. Tafsir bertujuan untuk melihat makna dalam Alquran melalui telaah secara bahasa, tiap kata dan kalimat. Sedangkan tadabur bertujuan untuk mengambil manfaat dan hikmah dalam Alquran, yang kemudian dapat diimplementasikan ke dalam kehidupan.


Tadabur QS. Al-Fatihah: 1-3

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ - ١

Artinya: "Dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Fatihah: 1).

Sobat Armi, dalam ayat pertama ini, kita mengetahui bahwasannya Islam menganjurkan kita untuk selalu memulai kegiatan ataupun aktivitas baik dengan membaca basmalah. 

Misalnya, sebelum pergi menuntut ilmu, berangkat kerja, mengendarai kendaraan, maupun menyelesaikan tugas sekolah. Tetap ingat membaca basmalah ya, Sobat Armi.

"Aktivitas apa saja yang kita lakukan jangan sampai lupa, awali dengan bismillah. Walaupun sekadar diucapkan dalam hati," Ujar Pak Subhan. 

Keutamaan membaca basmalah juga terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Rasulullah Sallallahu alaihi Waa Salam bersabda:

"…Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah SAW. bersabda: Setiap pekerjaan yang baik, yang tidak dimulai dengan (membaca) „Bismillahirrahmanirrahim, niscaya terputus [berkahnya]." (HR. Ibnu Majah)

Jangan sampai berkah dari segala aktivitas yang kita lakukan terputus, karena lupa membaca basmalah. Selain itu, ingat juga untuk senantiasa niatkan semua aktivitas baik karena Allah Subhanallahu Wa'ta'ala.


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ - ٢

Artinya: "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam." (QS. Al-Faatihah: 2).

Berlanjut pada ayat kedua, kita dapat ketahui bahwasannya ayat ini merupakan bukti pengakuan Allah atas ke-'Maha'-annya sebagai satu-satunya Pencipta alam semesta, yang Maha mengetahui atas segala sesuatu, meliputi yang kita ketahui, sampai segala hal yang tersembunyi.

Selain itu, kita juga bisa dapati bahwa dari ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan untuk senantiasa bersyukur, dengan terus mengingat dan memuji Allah subhanahu Wata'ala. 

Bahwasannya Dialah Allah yang menciptakan alam semesta, juga segala isinya, termasuk kita, manusia.

Atas kekuasaan-Nya, Allah juga melimpahan nikmat-Nya atas kita. Menjadi jawaban atas segala hal yang kita butuhkan. Pak Subhan menyebutnya sebagai rezeki. "Rezeki itu, bukan hanya duit. Rezeki itu semuah hal yang makhluk hidup butuhkan," tutur Pak Subhan. 

Menghirup udara yang sejuk, menapaki penjuru bumi yang indah, merasakan makanan yang halal dan sehat. Terus merasa tentram dalam beribadah, dimudahkan dalam melewati kesulitan, merasa tenang saat membaca dan mendengar untaian Alquran, sampai dimudahkan lisan dan hatinya untuk terus mengingat Allah. Sobat Armi, bukankah semua itu bagian dari rezeki?


الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ - ٣

Artinya: "Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Faatihah: 3)

Sobat Armi, kita beranjak pada ayat ketiga. Dalam ayat ini, kita dapati dua asma Allah, diantaranya Arrahman, Yang Maha Pengasih, dan Arrahim, Yang Maha Penyayang. Asma-Nya ini juga terkandung pula di ayat pertama. 

Arrahman berarti, Allah Yang Maha Pengasih. Pada sifat-Nya ini, Allah mengasihi seluruh umat manusia yang ada muka bumi, semuanya diberikan Rahman, baik itu yang beriman kepada Allah maupun yang tidak beriman. 

Adapun Arrahim yaitu, Allah Yang Maha Penyayang. Pada sifat-Nya yang teristimewa ini, Allah mengasihi seluruh umat Islam. Dari umat Islam yang telah sempurna amalannya, maupun yang belum sempurna.

Allah mengasihi dan menyayangi seluruh ciptaan-Nya, tak terkecuali umat manusia. Namun, Pak Subhan berpesan untuk tidak bersikap acuh. "Kita jangan sampai memiliki pemikiran 'Ah, ngga usahlah taat-taat. Selama ini ngga taat ke Allah, tapi rezeki gue aman aja'," ucap Pak Subhan.

"Hati-hati, itu istidraj. Istidraj berarti dicuekin sama Allah, ngga dianggep, udah dilepas aja tuh sama Allah, udah ngga dikasih peringatan," tegas Pak Subhan. 

Sobat Armi, berikut tadabur 3 ayat pertama dalam Al-Faatihah. Semoga kita dijauhkan dari pemikiran-pemikiran yang membuat Allah murka. Jangan sampai kita termasuk orang yang menyesal di akhirat kelak, karena telah menyia-nyiakan rahman dan rahim-Nya.


Penulis        : Dwi Agustin
Foto             : Abdul Rohim
Penyunting  : Tim Media Kreatif Asosiasi Remaja Masjid Istiqlal
Sumber        :
1. Siniar @Siniarmi Episode 7
2. Khoirur Rifqi Robiansyah. 2019. Skripsi, Tadabur dalam Alqura (Perspektif Semantik Toshihiko Izutsu). Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Posting Komentar

0 Komentar