Pembekalan Pengurus ARMI Melalui Majelis Ta’lim Pemuda Istiqlal (MTPI), Yuk Simak Ilmunya!

Foto dokumentasi MTPI/Istiqlal/12/2020


Jakarta- Dalam rangka pembekalan terhadap pengurus Asosiasi Remaja Masjid Istiqlal (ARMI), kegiatan Majelis Ta’lim Pemuda Istiqlal (MTPI) diselenggarakan di lantai utama Istiqlal pada hari Jumat, 11/12/2020, dan dihadiri oleh pengurus Asosiasi Remaja Masjid Istiqlal.

Kegiatan yang diselenggarakan secara virtual dan bisa disaksikan masyarakat umum melalui Live YouTube: Masjid Istiqlal TV ini, diisi dengan paparan materi “Teraturnya Dakwah Pemuda Muslim” oleh Dr. H. Tubagus Wahyudi, MA dan "Generasi Muda yang Diharapkan" oleh KH. Bukhori Sail Attahiri, Lc, MA.

Teraturnya Dakwah Pemuda Muslim

Dalam kajiannya mengenai Teraturnya Dakwah Pemuda Muslim, Dr. H. Tubagus Wahyudi, MA menyampaikan bahwa prinsip dakwah tidak ubahnya mengenai cara menyampaikan hal yang diperintahkan untuk disampaikan. Sehingga memerlukan dasar ta’rif yang sama, guna mencapai kesepakatan presepsi ketika membahas mengenai teraturnya dakwah.

“(Sesuai dengan judul pembahasan), yaitu ‘Teraturnya Dakwah Pemuda Muslim’, sehingga hal yang paling mendasar disetiap berbicara adalah janganlah kita memulai pembicaraan, jika belum menyepakati poin-poin yang ingin kita bicarakan,” ujar Dr. H. Tubagus Wahyudi dalam paparan materinya melalui Zoom Meeting, di Jakarta, Jumat, (11/12/2020).

Kemudian, Dr. H. Tubagus Wahyudi juga mengingatkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Hati-hati engkau ketika berkata-kata. Hendaknya engkau berpikir sebelum mengatakan kata-kata tersebut. Karena ketahuilah, manusia itu banyak terjerumus ke dalam api neraka dikarenakan ia berkata-kata tapi belum memikirkan kata-katanya.”

Dengan adanya pembahasan mendasar tersebut, kemudian menyatukan pemikiran sehingga bisa beriringan dengan presepsi yang sama, percakapannya akan menjadi teratur. Sehingga dalam dakwah, hal ini bisa memudahkan masing-masing untuk saling memahami.

Kemudian, Dr. H. Tubagus Wahyudi juga menyampaikan bahwa sebagai manusia, kita perlu mengenal diri sendiri lebih dalam. 

“Saat mendalami ilmu agama, para ulama mengajarkan kepada kita untuk mengenali diri kamu lebih dalam, lebih dalam, lebih dalam, maka engkau akan kenal siapa Tuhanmu,” ujar Dr. H. Tubagus Wahyudi.

Dalam menempuh langkah mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dr. H. Tubagus Wahyudi mengatakan bahwa kita harus mengenal diri kita dengan baik. Hal itu bisa diakali dengan terus belajar. “Oleh karena itu, diksi ‘manusia memiliki akal’ bisa kita perbaiki menjadi ‘manusia berpeluang memiliki akal’,” ujar beliau.

Dalam hal itu, saat akal berfungsi dengan baik, maka akal dapat membantu manusia untuk memiliki naluri cahaya, sehingga bisa membedakan antara yang benar dan yang salah, atau hal yang buruk maupun yang baik.

Oleh karenanya, Dr. H. Tubagus Wahyudi  menyampaikan bahwa makna ‘akal’ yang dirujuk dari kitab-kitab para ulama adalah ‘agama’. Akal merupakan pembeda. 

“Maka jangan hanya memahami bahwa akal adalah pembeda benar dan salah, baik dan buruk, tetapi akal itu pembeda atas segala hal. (Akal juga bisa dimaknai dengan) suatu pilihan, keputusan yang bijak, menetapkan waktu saat harus melangkah, memperhatikan hal yang harus dilakukan, dan seterusnya.”

Selanjutnya, untuk menuju dakwah muslim yang teratur, kita juga perlu memperhatikan hal-hal berikut ini, diantaranya sebagai berikut.

1. Sadar dan Pahami Tujuan

Sebagaimana fungsi dan tujuannya, manusia dihidupkan di bumi ini sebagai seorang Khalifah, sehingga dengan itu, manusia seharusnya memiliki kesadaran dan berusaha untuk terus memahami tujuan diciptakannya.

Dalam berikhtiar menuju dakwah yang teratur, Dr. H. Tubagus Wahyudi  memaparkan teori tentang kesadaran, beliau berkata bahwasannya kita tidak bisa ‘apa’ kalau kita tidak paham apa itu ‘apa’. Kita tidak bisa ‘teratur’, kalau kita tidak tahu apa itu ‘teratur’. Kita tidak bisa ‘dakwah’, kalau kita tidak tahu apa itu ‘dakwah’.

Sehingga dari analogi tersebut, kita dapat pahami bahwa sebelum kita menuju dakwah yang teratur, kita harus mengetahui makna tujuan tersebut dengan berlandaskan oleh ilmu (terutama Alquran, dan Hadist), pengetahuan, wawasan, pengalaman, hidup yang senantiasa berorientasi kepatuhan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, prestasi, dan kebermanfaatan.

Disamping itu, Dr. H. Tubagus Wahyudi juga berpesan sesuai Qs Al-Ahzab/33:21, bahwa jika kita berpikir tentang cara dakwah yang benar, kita bisa melihat contoh, yaitu suri tauladan kita, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.

“Untuk berpikir teraturnya dakwah, (kita bisa) langsung melihat contoh. (Karena) sudah dikatakan bahwasannya dalam diri Rasulullah itu, (terdapat) contoh yang baik, uswatun hasanah,” Sambung Dr. H. Tubagus Wahyudi.

2. Perlu Akhlak Baik

Kemudian Dr. H. Tubagus Wahyudi  menambahkan, saat kita sudah mengetahui bahwa Rasulullah merupakan suri tauladan, kita dapat mengetahui hal yang bisa dicontoh dari Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sesuai dengan sabdanya, yaitu “Sesungguhnya aku (Rasulullah) diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR Al-Baihaqqi)

Dari hadist tersebut, kita dapat pahami bahwa patokan keberhasilan yang dicontoh oleh Rasulullah adalah ada pada akhlak mulianya. 

“Yang penting satu hal, akhlak kita jangan sampai buruk. Kalau Allah kasih kita gagal, cari tahu caranya supaya gagal (tersebut bisa) tetap (menjadikan kita) berakhlak, dan bagaimana (ketika) kita sukses, kesuksesan itu tetap (membuat kita) berakhlak,” pesan Dr. H. Tubagus Wahyudi.

Sehingga dari pesan Dr. H. Tubagus Wahyudi  tersebut, kita ketahui bahwasannya dalam berdakwah secara teratur, kita juga memperlukan akhlak yang baik agar orang lain bisa memahami dan menerima kebaikan yang kita sampaikan.

3. Menjadi Manusia

Hal selanjutnya yang perlu diperhatikan saat ingin berdakwah secara teratur adalah dengan menjadikan diri manusia seutuhnya. Dr. H. Tubagus Wahyudi mengatakan bahwa manusia memiliki dua tujuan hidup, diantaranya manusia itu hidup dan tumbuh untuk menjadi manusia dan memanusiakan manusia lainnya.

“Sebagaimana Rasulullah yang menerima wahyu dari Allah saat usianya 40 tahun. Menurut Om Bagus, hal itu bisa diartikan bahwa Allah ingin memeriksa keistiqomahan Rasulullah sejak kecil sampai berusia 40  tahun, dan memberi tahu bahwa usia 40 tahun itu mestinya manusia mencapai tujuan hidup, untuk menjadi makhluk mulia,” tutur Dr. H. Tubagus Wahyudi.

Kemudian, beliau menyampikan tanda seseorang berhasil menjadi manusia adalah dengan menjalankan tugas manusia sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, yaitu memanusiakan manusia. 

“(Sehingga dapat disimpulkan) menjadi manusia ialah untuk memanusiakan manusia (yang lainnya),” pesan Dr. H. Tubagus Wahyudi.

Sehingga dalam poin tersebut, kita bisa pahami bahwa teraturnya dakwah, bisa terjadi jika kita berhasil menjadi manusia. Jadi, ingatlah bahwa pesan kebenaran yang disampaikan dengan baik, akan diterima dengan baik juga.

Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dalam HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599, yaitu “Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung).”

Dari hadist tersebut, Dr. H. Tubagus Wahyudi berpesan untuk mempelajari dan mengatur keseimbangan hati diri sendiri agar bisa mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan. 

4. Berdakwah dengan Hikmah

Melaksanakan dakwah dengan hikmah adalah hal yang juga perlu kamu perhatikan. Dr. H. Tubagus Wahyudi berpesan bagi para pemuda yang ingin berdakwah, bahwasannya kita harus terapkan keseimbangan dalam diri. 

“Kita harus menerapkan sistem balance dalam diri kita (sehingga) sistemnya itu jangan (sampai) menjadikan kita sebagai seseorang yang diancam dalam Qs Al-A’raf ayat 179,” tutur Dr. H. Tubagus Wahyudi.

Berdakwah dengan hikmah, harus kamu awali dengan menjadi hamba-Nya yang menggunakan mata untuk melihat tanda-tanda kuasa Allah, dan menggunakan telinga untuk mendengar ayat-ayat Allah.

“Kemudian, bagi pemuda yang ingin berdakwah, harus berprestasi. Ibaratkan dakwah seperti membagi-bagi permen. Jika Anda tidak memiliki permen, apakah bisa bagi-bagi permen? (Dari analogi tersebut), mulailah sejak saat ini untuk perbanyak kebaikan supaya bisa berbagi kebaikan,” pesan Dr. H. Tubagus Wahyudi.

Generasi Muda yang Diharapkan

Disisi lain, KH. Bukhori Sail Attahiri, Lc, MA juga memaparkan wujud kriteria Generasi Muda yang Diharapkan. 

Bahwasannya pemuda yang diharapkan ialah mereka yang berorientasi pada kebenaran, bisa membawa diri untuk tetap ada pada hal yang paling benar, paling baik. 

"Generasi ideal ialah (mereka) yang berwawasan rabbani, berorientasi (pada) kebenaran,  bisa membawa diri (untuk) memilih hal yang paling benar, paling baik," ujar KH. Bukhori Sail Attahiri.

Kemudian, beliau menambahkan bahwa generasi yang diharapkan adalah yang memiliki keteguhan pendirian. Sehingga tidak mudah terpancing dengan emosi. 

Bersikap bijaksana dan berwawasan luas, dengan terus menelaah keadaan dan senantiasa berpihak pada kebenaran.

"Ini perlu pendalaman (ilmu) mengenai (cara untuk) mengatur diri dan hati, agar kita tidak  mudah dibawa oleh emosi kita. Cari tahu dulu," ujar KH. Bukhori Sail Attahiri.

"Untuk bisa berwawasan luas, generasi muda harus belajar seluas-luasnya. Bukan hanya belajar objek-objek di Indonesia, kita juga bisa baca banyak informasi," sambung KH. Bukhori Sail Attahiri.

Selain itu, proses dalam memiliki wawasan luas  juga memerlukan keuletan. "Harus tahan banting, bekerja (maupun) belajar, harus bertahan. Karena justru generasi muda yang punya banyak pengalaman, (sudah menjalani proses dengan) susah payah, ketika dia sukses nanti, dia sangat hebat," pesan KH. Bukhori Sail Attahiri.

Selanjutnya, pemuda yang diharapkan ialah mereka yang bercita-cita tinggi namun juga tetap membumi. 

"Harus (terapkan) waqiiyah dan ilmiyyah, sadar tentang realita yang ada di hadapan kita. Jadi (silakan) berpikir setinggi langit, namun kaki kita tetap menapak di bumi," ujar KH. Bukhori Sail Attahiri.

KH. Bukhori Sail Attahiri juga berpesan bahwa setiap mimpi yang diharapkan, harus tetap disesuaikan dengan keadaan sekitar. "Kita sesuaikan, kita coba jawab problematika sekeliling, dan mencari solusi. Bercita-cita tinggi berangkat dari realita yang kita jalani."

Terhubung dengan sistem dakwah para pengurus Asosiasi Remaja Masjid Istiqlal, KH. Bukhori Sail Attahiri juga berpesan untuk terus menyadari bahwa sebagai pemuda, kita memiliki misi dakwah.

"Dakwah tidak harus di mimbar. Remaja punya banyak cara untuk berdakwah, misalnya dengan seni, kegiatan-kegiatan sosial, atau kegiatan organisasi," tutur KH. Bukhori Sail Attahiri.

Setara dengan pesan Dr. H. Tubagus Wahyudi, Kh. Bukhori Sail Attahiri juga berpesan agar pengurus Asosiasi Remaja Masjid Istiqlal dan setiap pemuda dapat berdakwah dengan hikmah, berdakwah secara bijaksana dan lemah lembut. 

Tegur perilaku buruk dengan cara yang baik, jangan menegur keburukan dengan keburukan yang sama.

"Berdakwahlah dengan baik, dengan lembah lembut. Perdebatan dengan (penyampaian) kejahatan punya efek yang buruk. Harus kuat fisik, pikiran, dan mental. Orang mukmin yang kuat badan (fisiknya), mental, dan ilmu, adalah (pemuda) yang diharapkan," ujar KH. Bukhori Sail Attahiri.

Beliau juga menyampaikan pentingnya menguasai ilmu, dan memiliki batas minimal dalam pemahaman ilmu. 

"Pengetahuan tentang Islam harus ada batas minimal, misalnya (paham cara) membedakan antara baik dan buruk, salah atau benar, dan lainnya," pesan KH. Bukhori Sail Attahiri.

Selain itu, KH. Bukhori Sail Attahiri juga mengingatkan bahwa saat kita melakukan sesuatu, namun dampaknya adalah keburukan, maka dipastikan ada proses yang keliru.

"(Misalnya saat mencari ilmu), ilmu tidak menjadikan orang sombong. Kalau (kemudian kita menjadi) sombong, berarti ada yang keliru proses belajarnya," tutur KH. Bukhori Sail Attahiri.



Penulis: Nurul Fajriyah
Penyunting: Tim Redaksi Asosiasi Remaja Masjid Istiqlal

Posting Komentar

0 Komentar