Inspirasi Kisah Abbad Bin Bisyr: Nikmatnya Tengelam Dalam Dekapan Alquran



Kalimantan-Sahabat pembaca yang budiman, puji serta syukur tidak selayaknya terhenti terucap dari lisan seorang hamba-Nya. Atas segala karunia dan limpahan rahmat-Nya, pada kesempatan ini kami dapat berbagi kembali. 

Salawat dan salam semoga selalu terlimpah curah kepada Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Kepada keluarga, sahabat dan pengikutunya hingga akhir zaman kelak. 

Semoga kita juga termasuk dari golongan umatnya, dan ditempatkan bersamanya di akhirat kelak. Aamin Allahumma aamin.

Izinkan pada kesempatan ini, kepada kami untuk sedikit berbagi tentang sebuah kisah inspiratif, yang semoga menajdi tambahan nilai bagi diri pembaca masing-masing dan kami pada khususnya. 

Tema besar dari tulisan ini adalah Nikmatnya tengelam dalam dekapan Alquran, dengan pendekatan kisah inspiratif salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa SallamAbbad Bin Bisyr.

Sahabat Pembawa Alquran Ketika Perang

Abbad Bin Bisyr, seorang sahabat dari golongan Ansar  yang setia kepada Nabi, seorang  yang gagah berani dalam medan juang, ahli ibadah dan taqwa, dan juga seorang yang sangat khusyuk dalam membaca Alquran. 

Abbad Bin Bisyr tidak asing dikalangan para sahabat nabi, sebab beliau adalah orang yang tidak pernah ketinggalan dalam setiap kegiatan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam

Dalam peperangan, tugasnya adalah sebagai pembawa Alquran, karena Nabi Muhammad tahu akan kecintaannya kepada Alquran.

Pernah suatu malam, ketika Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menginap di rumah istrinya Aisyah r.a., ketika beliau hendak melaksankan salat malam, terdengar lantunan bacaan Alquran yang merdu. 

Lantas Nabi bertanya kepada Aisyah terkait sumber suara tersebut, dan Aisyah menjawab bahwa suara itu adalah suara Abbad Bin Bisyr. 

Sepeninggal Rasuullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, Abbad Bin Bisyr adalah salah seorang imam dalam salat di kalangan para sahabat karena kekhusyuan bacaannya.

Kisah inspiratif Abbad Bin Bisyr

Awal dari kisah ini bermula pada saat Rasulullah dan pasukan Kaum Muslimin pulang dari berperang dan hendak bermalam di sebuah lembah. 

Lantas Rasulullah hendak menawarkan bagi para sahabatnya tentang siapa yang akan bertugas "menjaga" pada malam itu. 

Singkat cerita ternyata dua orang sahabat menawarkan dirinya, yaitu Amr Bin Yasir dan Abbad Bin Bisyr sebagai petugas yang menjaga pada malam hari.

Ketika tiba datang waktu malam, terjadi kesepakatan antara Amr Bin Yassir dan Abbad Bin Bisyr terkait siapa yang akan berjaga terlebih dahulu.

Strategi ini digunakan agar proses penjagaan menjadi maksimal, dimana ketika dua-duanya langsung berjaga, sangat dikhawatirkan keduanya lengah ketika sudah kelelahan dan musuh dapat dengan mudah menyerang. 

Namun dengan pembagian porsi jaga, maka akan maksimal, karena waktu untuk beristirahat dan berjaga dipraktikkan secara bergantian.

Dari kesepakatan tersebut Abbad Bin Bisyr dapat tugas untuk berjaga terlebih dahulu sedangkan Amr Bin Yassir beristirahat.

Malam tersebut terlihat tenang, sepi dan damai. Seolah-olah angin, bebatuan, rerumputan dan bulan bertasbih memuja asma-Nya.

Abbad Bin Bisyr yang juga seorang ahli ibadah, sehingga pada malam itu, beliau segera mengambil air wudhu lantas mengerjakan salat. Beliau pun tengelam dalam kekhusyukan bacaanya dalam salatnya.

Tembusnya Anak Panah

Dalam keadaan kekhusyukan ibadahnya, tengelam dalam buaian kalam illahi yang syahdu, membuat Abbad Bin Bisyr tak menyadari ada seorang musuh yang mengintainya dari kejauhan. 

Musuh yang melihat ada kaum muslimin yang berjaga, lantas menarik anak panahnya dan menembakkan ke arah Abbad Bin Bisyr. 

Tembakanya tidak sedikitpun melenceng, tepat mengenai Abbad Bin Bisyr yang masih dalam keadaan salat. 

Ketika anak panah pertama menembus tubunya, maka Abbad pun mencabut anak panahnya dan melanjutkan bacaan dalam salatnya.

Kemudian bertubi-tubi datang lagi tembakan anak panah hingga tiga kali dan tepat mengenai tubuh Abbad Bin Bisyr.

Namun setiap kali anak panah menancap, dan dicabutnya anak panah itu, bercucurlah darah keluar dari dalam tubuhnya. 

Tidak sedikit pun goyah salatnya, Abbad pun tetap melanjutkan salatnya dan ingin menyelesaikan bacaan surah Al-kahfi yang sedang dibacanya pada saat itu. 

Namun terbesit dalam hatinya tidak ingin menyia-nyiakan tugas dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

Sehingga dengan terpaksa, Ia pun menyegerakan ruku’ dan menyelesaikan salat dalam keadaan yang belum selesai bacaan surah Al-Kahfinya.

Ketika salam dalam salat telah terucap, Abbad langsung membangunkan temannya yaitu Amr Bin Yassir. 

Seketika Amr terkejut dengan banyaknya darah yang keluar dari tubuh Abbad. Amr dan Abbad kemudian melihat ada seorang musuh dari kejauhan, dan pemanah itupun lari dalam persembunyiannya. 

Amr bin yassir heran kepada Abbad dan bertanya, kenapa tidak membangunkanya dan kenapa tidak ia hentikan ketika anak panah menembus tubuhnya. 

Satu jawaban luar bisa keluar dari seorang ahli ibadah dan ahli Alquran,

“Jikalau bukan karena tugas dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, aku rela tubuhku terputus daripada aku harus memutus bacaan Alquranku,” kata Abbad Bin Bisyr.

Masyaallah, pembaca yang budiman. Sungguh mulia generasi sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

Hikmah Kisah Keteguhan Abbad Bin Bisyr

Dari kisah tersebut, kita dapati hikmah, bahwasannya kita harus menjadi muslim yang setia dan berani dalam berjuang menegakan agama Allah. 

Kemudian, seseorang dikatakan sebagai ahli Alquran tidak hanya dilihat dari seberapa banyak hafalanya, namun juga seberapa sering kita berinteraksi dengannya.

Selain itu, semangat perjuangan yang tidak penah padam dalam diri Abbad Bin Bisyr juga bisa kita teladani.

Dahulu, pada zaman Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, ada seorang sahabat yang ketika dalam salatnya dicabut pedang dari tubuhnya, mereka biasa. 

Ada pula yang sahabat yang tiga anak panah menembus tubunya masih tetap khusyuk dan tengelam dalam bacaan Alquran. 

Lantas dimana posisi kita sekarang. Apakah sudah mampu? Tidak diragukan lagi bahwa generasi para sahabat salah satu generasi terbaik.

Semoga yang singkat ini bermanfaat. Akhiulkalam, Wassalamualaikum.


Penulis : Muhammad Fiqri Nur Ilmi Syaifullah

Penyunting : Redaksi Asosiasi Remaja Masjid Istiqlal

Posting Komentar

0 Komentar