Simak Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail, Ada Keteladanan yang Bisa Kita Pelajari

ilustrasi. freepik/@wirestock

Jakarta-Ketika mendengar nama Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as., ingatan kita akan kembali pada kisah dibalik Hari Raya Idul Adha. Hari untuk berqurban, menyembelih hewan-hewan qurban untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya atau disebut sebagai mustahiq. Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengabadikan kisah Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. dalam QS. As-Shaffaat : 99-111. Mari kita murajaah kembali kisahnya.

Pada saat itu usia Nabi Ibrahim as. sudah tak lagi muda, namun beliau 'alaihissalam belum mempunyai keturunan. Nabi Ibrahim as. terus berdoa, meminta kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar diberi keturunan. Doa Nabi Ibrahim as. bisa kita lihat pada kedua surat berikut :

1. QS. Al-Anbiya : 89,

رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

Artinya : Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah pewaris yang paling baik.

2. QS. Ash-Shaffaat : 100,

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Artinya : Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.

Nabi Ibrahim as. bersabar dan berdoa tak pernah henti hingga Allah Subhanahu Wa Ta'ala menjawab doa beliau di usianya yang kurang lebih 86 tahun. 

Allah SWT menganugerahi Nabi Ibrahim as. keturunan, yang diberi nama Ismail sebagai seorang yang sangat sabar (QS. Ash-Shaffaat : 101). Penantian Nabi Ibrahim as. membuatnya semakin bersyukur karena kebahagiaannya yang tiada henti.

Saat Ismail mencapai usia yang cukup, Allah Subhanahu Wa Ta'ala menguji Nabi Ibrahim as. dengan sebuah mimpi agar beliau 'alaihissalaam menyembelih Ismail dan kemudian beliau' alaihissalaam bertanya bagaimana pendapat anaknya mengenai hal tersebut. 

Nabi Ismail as. yang saat itu masih kecil menjawab “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (Allah Subhanahu Wa Ta'ala) kepadamu; insyaa Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar“ (QS. Ash-Shaffaat : 102).

Keduanya pun berserah diri pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan menjalankan mimpi yang telah diperintahkan-Nya. Kemudian Nabi Ibrahim as. membaringkan anaknya di atas pelipisnya (QS. Ash-Shaffaat : 103). 

Saat ingin disembelih, maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala menebus atau mengganti Ismail dengan seekor sembelihan yang besar sebagi bentuk kesabaran beliau (QS. Ash-Shaffaat : 107).

Seekor sembelihan itulah yang sekarang kita sebut sebagai hewan qurban dan penyembelihan hewan qurban disebut dengan berqurban.

Idul Adha

Dari kisah inilah, Idul Adha bermula. Selain menjadi pengingat umat muslim tentang kisah Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as, Idul Adha juga dilakukan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala (QS. Al-Maidah: 7), mencerminkan sikap taat dan tawakkal kepada Allah SWT (QS. Al-Hajj: 34), dan berbagi kepada sesama (bersedekah).

Teladan yang bisa kita pelajari

1. Taat pada perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala

Mimpi seorang Nabi adalah wahyu dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, perintah untuk dipatuhi dan dijalankan. Lalu Nabi Ibrahim as. menjalankan perintah Allah sebagai bentuk ketaatan dan kecintaan pada-Nya.

Ibnu Taimiyah berkata, “Maksud dari perintah menyembelih di sini adalah Allah memerintah kekasihnya (khalilullah) untuk menyembelih putranya di mana perintah ini amatlah berat. Itulah ujian bagi Ibrahim untuk membuktikan kalau ia murni mencintai Allah dan menjadikan ia khalilullah atau kekasih Allah seutuhnya. Itulah tanda kecintaan yang sempurna pada Allah.” (Ar-Radd ‘ala Al-Mantiqin, hlm. 517-518)

2. Sabar menjalankan perintah-Nya

Sabar merupakan perbuatan yang baik, namun bukan karena Nabi Ibrahim as. adalah seorang Nabi lantas beliau bisa bersabar lebih baik dari kita, beliau 'alaihissalaam tetaplah seorang hamba Allaah. Keimanan dan ketaqwaan beliau lah yang menjadi pembedanya.

Kesabaran beliau dalam menerima ketetapan Allah, dalam hal ini menanti keturunan dan saat diberi keturunan itu yang harus kita teladani. Beliau alaihissalam mampu bersabar karena yakin pada doa-doa yang dipanjatkan dan yakin pada janji Allah Subhanahu Wa Ta'ala bagi orang-orang yang bersabar. 

Janji Allah Subhanahu Wa Ta'ala pada orang-orang yang bersabar ialah mendapat balasan yang baik. (QS. Ash-Shaffaat : 110-111)

3. Tawakkal dan berserah diri hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala

Dalam QS. Ash-Shaffaat ayat 103, kita melihat bahwa keduanya benar-benar berserah diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, tawakkal 'alallah.

Berserah dan menerima segala sesuatu yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala perintahkan. Dalam keadaan yang sedang sempit atau mungkin kecewa terhadap sesuatu, kita harus meneladani Nabi Ibrahim as. yaitu pasrah dan berserah hanya pada-Nya. 

Kita harus menyakini dan percaya bahwa disetiap kesulitan dan ujian yang dihadapi, Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan memberikan jalan keluarnya.


Penulis : Aslima Sadilah
Penyunting : Redaksi Asosiasi Remaja Masjid Istiqlal Jakarta

Posting Komentar

0 Komentar